Model 70-20-10 dan Informal Learning

GML , December 22 2020

Model 70-20-10 dan Informal Learning

Coba jawab dulu pertanyaan ini sebelum melanjutkan membaca: “Siapa orang yang darinya Anda paling banyak belajar?”


Ketika menjawab pertanyaan ini, sebagian besar orang akan menyebutkan orang tuanya, kakaknya, atasannya, atau seorang tokoh tertentu. Jarang yang menyebutkan nama salah seorang gurunya sewaktu mengikuti pendidikan formal, apalagi nama fasilitator yang pernah memimpin pelatihan yang pernah diikutinya! Tentu bukan berarti guru dan fasilitator itu tidak penting. Sama sekali tidak. Hanya saja setelah kita dewasa, harus kita akui bahwa kita belajar lebih banyak dari interaksi kita dengan orang lain dan pengalaman kita sendiri, daripada dari pendidikan dan pelatihan yang telah kita ikuti.


Inilah yang kita sebut dengan Model 70-20-10, yang menyebutkan bahwa kita belajar 70% dari pengalaman kita sendiri, 20% dari hubungan kita dengan orang lain, dan 10% dari pendidikan dan pelatihan yang kita ikuti. Organisasi yang menerapkan model ini menekankan bahwa pengembangan adalah sebuah proses yang berkelanjutan, dimana pelatihan merupakan bagian darinya. Contohnya, ketika seorang pegawai diharapkan mengembangkan kompetensi di bidang tertentu, maka ia akan memulai proses pengembangan dengan bertemu dengan atasannya untuk menetapkan sasaran pengembangan yang spesifik dengan disertai beberapa action plan. Lalu ia juga mendapatkan coaching dari mentornya, dan baru setelah itu ia diikutsertakan dalam pelatihan. Setelah menyelesaikan pelatihan itu dengan baik, ia diikutsertakan dalam proyek lintas fungsional untuk mengasah kompetensinya lebih lanjut, sambil terus mendapatkan coaching dan evaluasi dari atasan dan mentor.


Ini adalah model pengembangan yang telah dilakukan secara efektif di banyak organisasi selama lebih dari 20 tahun. Namun dengan terus berkembangnya teknologi, maka model pembelajaran juga ikut berkembang. Saat ini ini telah muncul satu fenomena belajar yang baru, yang belum tercakup di dalam model 70 20 10, yaitu model informal learning. Orang-orang telah belajar melalui beragam cara, termasuk lewat video, membaca artikel online, ikut serta dalam forum, lewat media sosial, bahkan lewat games.


Tapi tidak berarti bahwa sudah saatnya kita meninggalkan model ini, melainkan kita perlu melengkapinya. Bagaimana menerapkan model informal learning ini? Para manajer lini perlu menyadari bahwa pengembangan SDM bukan hanya tanggung jawab bagian SDM atau Learning Center atau Corporate University saja. Mereka sendiri memegang peranan kunci sebagai orang yang paling tepat untuk mengidentifikasi kebutuhan pengembangan yang dimiliki para pegawainya.


Setiap pegawai juga perlu mengambil tanggung jawab pribadi untuk pengembangan dirinya. Sikap proaktif sangat diperlukan. Kalau tidak, kompetensinya akan segera ketinggalan jaman dan tidak relevan lagi. Ada baiknya juga para pegawai dilibatkan dalam merancang program pelatihan bagi mereka untuk memastikan pelatihan tersebut menjawab kebutuhan riil yang mereka rasakan.

More Article

The Death of Transactional Leadership?

GML , December 22 2020

“Management is about persuading people to do things they don’t want to do. While leadership is about inspiring people to do things they never thought they could. An...

The Death of Transactional Leadership?
Kunci Memetakan Jalur Karier

GML , December 22 2020

Future leader merupakan topik yang selalu hangat di tempat kerja. Pertanyaan seperti, “Sampai kapan perusahaan saya akan sustain?”, “Siapa yang akan menja...

Kunci Memetakan Jalur Karier
Mengenal Full Stack Developer dan Skill yang Wajib Dimiliki

GML , December 22 2020

Di era society 5.0 saat ini, kamu harus jeli dalam melihat peluang kerja, sebab banyak profesi baru yang sedang naik daun dan banyak dicari perusahaan. Tak hanya pr...

Mengenal Full Stack Developer dan Skill yang Wajib Dimiliki
Menentukan KPI: Antara Intuisi dan Analisis

GML , December 22 2020

Dari diskusi yang membahas perbaikan kualitas layanan, konsultan GML membantu bank lokal merancang studi banding ke tiga bank terbesar di Singapura. Studi ters...

Menentukan KPI: Antara Intuisi dan Analisis